Apa itu Madrasah?

Universitas al-Qarawiyyin di Fez, Maroko adalah salah satu universitas tertua dan tempat pendidikan madrasah.  Kredit editorial: milosk50 / Shutterstock.com

Universitas al-Qarawiyyin di Fez, Maroko adalah salah satu universitas tertua dan tempat pendidikan madrasah. Kredit editorial: milosk50 / Shutterstock.com

Kata ‘madrasah’ berasal dari bahasa Semit yang berarti ‘belajar di suatu tempat’. Dalam bahasa Arab dan banyak bahasa yang dipengaruhi bahasa Arab, madrasah (madrasah, madrasah, atau madrasah) mewakili lembaga pembelajaran swasta, publik, sekuler, dan keagamaan termasuk sekolah dan universitas untuk pelajar Muslim atau non-Muslim. Di negara-negara Islam, madrasah biasanya mencakup beberapa kursus, seringkali dua, seperti hifz (menghafal seluruh Quran) dan ālim (bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin Muslim). Seorang ālim mengajarkan tafsir Al-Qur’an, hukum Islam, ajaran Nabi Muhammad, logika, dan sejarah Muslim. Namun, di negara-negara minoritas Muslim, termasuk barat, madrasah mengacu pada sistem pendidikan agama di mana peserta didik mempelajari konten Islam dalam bahasa Arab termasuk Quran, Hadis, Sejarah Islam, dan sastra Arab. Kebanyakan madrasah biasanya, tetapi tidak selalu, terkait dengan masjid.

Sejarah Awal Madrasah

Salah satu bukti paling awal dari jejak pendidikan madrasah kembali ke 859 M di Maroko Jāmiʻat al-Qarawīyīn (Universitas Al Quaraouiyine), salah satu universitas tertua. Penyebutan awal lainnya termasuk Mesir sekitar 959. Selama periode abad pertengahan (abad kesepuluh) di dunia Islam, maktab lebih rendah dari madrasah dan sering diajarkan di masjid saja, sedangkan madrasah berarti pendidikan tinggi. Namun, integrasi ilmu-ilmu sekuler, etika, musik, dan studi filosofis ke dalam madrasah muncul belakangan selama periode ini. Antara abad kesebelas dan keempat belas, kurikulum madrasah tumbuh dan menjadi lebih canggih untuk memasukkan filsafat Islam dan kemudian disiplin ilmu seperti matematika, geografi, astronomi, dan astrologi. Selama Kekaisaran Ottoman, sistem pendidikan madrasah mengintegrasikan pendidikan spiritual, intelektual, tertulis, dan lisan. Penggunaannya meluas hingga mengubah sebuah gereja menjadi madrasah untuk mengajarkan hadits dan obat-obatan tingkat tinggi saat itu.

Pentingnya Madrasah Menurut Islam

Cendekiawan Muslim percaya bahwa pendidikan madrasah berlabuh pada ayat Al-Qur’an di mana Nabi Muhammad mengatakan bahwa “Tuhan, beri aku pengetahuan” dan dalam ayat-ayat lain di mana dia berkata “barang siapa meninggalkan rumah untuk mencari ilmu berjalan dengan Tuhan,” dan “mencari ilmu dari buaian ke kuburan”. Selanjutnya, pepatah Arab abadi “tinta para ulama lebih berharga daripada darah para syuhada,” menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi umat Islam awal. Percaya bahwa nabi Muhammad mengajarkan dan menyebarkan rahmat, madrasah mengajarkan hadits nabi bagi manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik dan mengabdi untuk kemajuan umat manusia Dari teks-teks ini, jelas bagaimana dan mengapa pendidikan madrasah dulu dan masih tetap penting bagi Islam.

Bantuan Madrasah dan Kemanusiaan

Di dunia di mana sistem pendidikan barat menyebar dengan cepat, negara-negara mayoritas Muslim juga menganut sistem tersebut. Karena elit dan kelas menengah di negara-negara ini terus bermigrasi ke kurikulum pendidikan barat, madrasah dibiarkan bertindak sebagai sistem kemanusiaan bagi siswa miskin. Orang tua miskin mendaftarkan anak-anak ke madrasah yang tidak membutuhkan banyak uang untuk menjalankannya dan di mana mereka menerima pendidikan gratis di samping makanan, ditambah dalam beberapa kasus, tempat tinggal. Seringkali, guru juga melayani secara sukarela atau dengan gaji rendah.

Penyalahgunaan Kata Madrasah

Dari sejarah baru-baru ini, dunia telah secara agresif melakukan westernisasi dan madrasah telah menemukan diri mereka dalam posisi yang canggung untuk mencoba mempertahankan pendidikan Islam. Karena konflik ideologi ini, beberapa madrasah turut menyebarkan sentimen anti-Barat dan melahirkan gerakan-gerakan radikal seperti Ikhwanul Muslimin, Jamaat-Islami, dan Nahdatul Ulama yang lulusannya seperti Ayatollah Iran, pemimpin Mujahidin, dan pemimpin Taliban. Dengan meningkatnya stigmatisasi serta radikalisasi Islam, kata madrasah sejak itu telah digunakan dalam konteks negatif terutama di dunia non-Islam pasca 11/9. Mereka yang tidak mengerti kata dan Muslim radikal berkontribusi pada penggunaan negatif. Muslim radikal telah menggunakan beberapa madrasah untuk benar-benar memabukkan peserta didik dengan informasi yang bias tentang jihad, oleh karena itu, peserta didik tumbuh dan menyebarkan kebencian terhadap agama dan entitas lain. Situasi ini terutama terjadi di banyak negara seperti Somalia, Yaman, dan Kenya.

  1. Rumah
  2. Masyarakat
  3. Apa itu Madrasah?

Related Posts